AIR MATA TERAKHIR
By: Cha
Wulandari (Dendrobium)
Aku memiliki
seorang sahabat, namanya
Wisty, dia anak yang ceria dan mudah akrab dengan orang lain. Aku dan
Wisty selalu bersama saat di sekolah,
tapi saat di rumah
kami jarang bersama,
karna dia tak
pernah keluar rumah. Saat jam sekolah sudah usai, ia akan langsung pulang ke rumah, sepertinya dia
sangat nyaman berada di rumahnya.
Seperti
hari-hari biasanya, setiap pagi di hari sekolah, aku selalu menunggunya di perempatan dekat
sekolah. Bila aku telat maka dia yang akan menungguku di sana, begitupun
sebaliknya bila dia yang telat maka aku yang akan menunggunya. Lalu kami akan
berangkat bersama.
Tak butuh waktu
lama aku menunggu dia datang menghampiriku sambil sedikit berlari, aku
tersenyum padanya dan ia pun tersenyum padaku.Dia berhenti tepat di depanku, dia
beristirahat sejenak lalu dia menyapaku mengucapkan selamat pagi. Aku pun mengucapkan
selamat pagi padanya.Dia berdiri tegak kembali lalu menggandeng tanganku dan
kami pun berjalan bergandengan menuju sekolah.
Entah ini takdir
atau hanya kebetulan saja,
aku di pertemukan dengannya sejak kami masih duduk di bangku SMP, aku dan dia
selalu berada
di kelas yang sama selama 6 tahun ini. Dia menjadi sahabatku sejak kelas 3 SMP,
dan sejak saat itu pula aku merasa tidak ingin berpisah dengannya. Dimana pun
ia berada pasti aku juga ada
di sana, bahkan ke WC pun kami pergi bersama.
Selama aku mengenalnya, aku tidak
pernah sekali pun melihat dia bersedih ataupun menangis, entah bagaimana hidup
yang ia jalani sehingga ia selalu tersenyum dan terlihat bahagia. Karna senyum
yang ia perlihatkan setiap hari itu, aku pun berkesimpulan bahwa dia tidak
memiliki masalah,
karna dia selalu tersenyum saat bertemu denganku.
Kamis pagi hari
itu, ia terlihat sangat berbeda, wajahnya tampak berseri-seri dan sangat
cantik. Pagi itu aku sangat takjub melihat dia, aku bagaikan melihat seorang
putri dari kayangan dalam dirinya. Dia tersenyum seperti biasa, menyapaku
seperti biasa, dan menggandeng tanganku dan kami langsung menuju ke sekolah
seperti biasa. Saat itu aku merasa jantungku berdegup cepat, aku merasa seperti
akan kehilangan sesuatu tapi aku tidak tau apa itu. Sepanjang hari jantungku
terus berdegup cepat.
Jam istirahat
adalah hal yang paling di sukai Wisty, alasannya karna dia bisa mengobrol
banyak denganku. Saat jam istirahat banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari
hal-hal yang ia suka seperti permen dan bunga hingga hal-hal yang sedang gempar
di dunia maya seperti cerita cinta orang-orang di sekolah. Jam istirahat
menurutku adalah waktu di mana aku dan dia bebas tertawa sesuka hati. Namun hari itu
sebelum jam istirahat usai, Wisty menanyakan pertanyaan yang aneh menurutku. Ia
bertanya padaku "Apakah kau bahagia menjadi sahabatku Nowela?". Aku sedikit terkejut
sekaligus heran dengan pertanyaan tersebut, ku pikir, tanpa ku jawab pun dia
pasti sudah tau jawabannya. "Aku
bahagia Wisty, sangat bahagia". Dan
hari itu juga untuk pertama kalinya aku melihat air mata Wisty jatuh dari
pelupuk matanya sambil terus tersenyum kepadaku. Aku merasa aneh dengan
sikapnya hari itu, tapi keanehan itu tidak ku hiaraukan.
Keesokan paginya
aku kembali menunggunya di sana, di perempatan dekat sekolah. Ini tidak seperti
biasanya fikirku, aku tidak pernah menunggu Wisty selama ini sebelumnya. Sudah
30 menit aku berdiri di sana menunggunya, namun ia belum datang juga. Kulihat
jam yang melingkar di tanganku, "Sebentar
lagi bel sekolah berbunyi".
Aku tidak ingin
mengambil resiko terlambat dan akhirnya aku memutuskan berangkat ke sekolah
sendiri.
Setelah hari itu
aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Dia tidak pernah datang
lagi kesekolah, dia juga tidak menelpon atau mengirim surat ke sekolah. Satu minggu lamanya aku
menunggunya di perempatan jalan itu tapi ia tak kunjung datang, aku selalu
setia menunggunya di perempatan jalan itu sambil terus berharap dia akan datang.
Tetapi harapanku sia-sia, ia tak pernah datang menghampiriku lagi. Aku putus
asa, aku lelah menunggunya terus menerus seriap hari di perempatan jalan itu,
akhirnya akupun memutuskan untuk menunjungi rumahnya walaupun ia selalu
melarangku untuk datang.
Perkiraanku
sangat jauh dari kenyataan. Saat aku tiba di depan rumahnya, tidak ada satu
orang pun di sana. Rumahnya memang besar namun sangat sepi. Aku menekan bel
berkali-kali namun tidak ada jawaban. Seorang ibu paru baya lalu menghampiriku
dari belakang dan bertanya "Sedang apa Eneng di sini? Eneng cari siapa?"
"Apa betul
ini rumahnya Wisty?" Tanyaku pada ibu-ibu itu.
"Non Wisty
tidak ada di rumah Neng, sudah seminggu non Wisty di rawat di rumah
sakit."
"Wisty
sakit apa Bu? Kok kita di sekolah tidak ada yang tahu?"
"Non Wisty
tidak sakit, Non Wisty kecelakaan."
Setelah
mendengat kabar ia masuk rumah sakit, aku pun bergegas pergi ke rumah sakit
untuk menjenguknya. Pada saat aku hendak memasuki ruangan tempat ia di rawat,
aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, “perasaan apa ini Ya Allah?” tanyaku dalam hati. Aku takut, aku
gugup.
Tiba-tiba pintu
kamar itu terbuka dan menampilkan sosok ibu Wisty yang sudah berusia hampir seperdua
abad. Dia tersenyum menyapaku dan menyuruhku untuk masuk ke dalam. Akhirnya akupun
memberanikan diri untuk memasuki ruang rawat sahabatku itu.
Saat aku membuka
pintu bercat putih itu, mataku langsung
mendapati sosok yang tidak asing lagi bagiku. Sosok Wisty di atas
sebuah tempat tidur rumah sakit berselimutkan kain tipis berwarna putih
bergaris abu-abu. Kini ia terbaring lemah dihadapanku dengan wajah yang sangat
pucat, penuh dengan luka yang
sudah di balut dengan kain putih.
“Untung saja wajahnya tidak tersiram air
panas, sehingga ibu masih bisa melihat wajahnya yang cantik” kata ibunya.Aku
merinding mendengar penuturan dari ibunya, air panas? Apa maksudnya dengan
air panas? Ibu Wisty mulai menangis melihat keadaan anakanya. Ia sudah tidak sanggup
lagi menahan kesedihannya.
Aku berjalan
kearahnya dengan kaki yang gemetar, rasanya aku tak bisa lagi menahan tangisku.
Tapi aku sudah berjanji padanya untuk tidak akan menangis lagi, aku berusaha
untuk membendung tangisku.
Saat aku berada
di sampingnya yang sedang koma, terlihat jelaslah dimataku luka-luka yang ada
di wajah dan lengannya. Luka
hantaman benda tumpul, "Apakah
ia juga di pukuli oleh seseorang? Tapi
siapa yang tega melakukan ini kepadanya?". Aku yakin luka itu tidak hanya ada di
situ, mungkin luka itu ada di sekujur tubuhnya. Aku semakin tidak bisa
menahan tangisku menyaksikan keadaanya yang sangat tragis itu. “Ty, siapa yang berani melukaimu?” tanyaku dalam hati padanya. Aku
menengok ke kiri
dan ke kanan
tak kulihat lagi ibu Wisty di sana, kemana beliau pergi?
Lama aku menahan
agar aku tak menangis di hadapannya, tapi aku tak sanggup berpura-pura tegar
lagi. Akhirnya air mata yang terlarang itupun menetes dari mataku. Aku menggenggam
tangannya, tangan itu terasa kaku dan dingin dalam genggamanku. Dan air mataku menetes
semakin banyak. “Maafkan aku”, kataku sambil menangis
tersedu-sedu dihadapannya yang lemah itu. “Tapi
biarkan aku menangis untuk kali ini, aku tak sanggup untuk berpura-pura tegar
melihatmu seperti ini. Biarkan aku menumpahkan air mata dihadapnmu, aku janji
ini yang terakhir. Maafkan aku”.
Air mataku semakin deras
mengalir seperti sungai dari pegunungan menuju muara dan terjun menuju lembah
terdalam. Aku mengis menumpahkan air mataku
sebanyak-banyaknya.
Aku menunduk
lalu kembali menatapnya, aku melihat ada bekas tetesan air di pipinya. Apakah
ia menangis? Ya ia memang menangis. Aku tahu dia kecewa melihatku seperti ini,
tapi aku tak sanggup lagi menahannya. Tiba-tiba terdengar bunyi panjang
dari alat pendeteksi jantung yang di pasang ke tubuhnya.Aku melirik alat itu
dan mendapati garis hijau itu berhenti bergerak. Seketika aku terdiam dan tak
tahu apa yang harus aku lakukan. Sekumpulan orang berseragam putih memasuki
ruangan dan aku masih terdiam di tempatku, aku tak bergerak sedikitpun dari
sana.
Ibu Wisty
memasuki ruangan itu dengan tangis yang histeris, aku tersadar setelah
mendengar ibunya memanggil nama Wisty dengan keras. Aku melirik ke arah Wisty
dan mendapati dirinya sudah tertutupi oleh kain yang tadi
menyelimuti tubuhnya. Ibunya memeluk jasad
yang kaku itu, air mataku kembali mengalir dengan sangat deras hingga tak
terbendung lagi. Inikah
akhir darinya? Ia
telah tiada, ia telah kembali kepada yang menciptakannya.
Setelah
pemakamannya pada hari itu, ibunya bercerita padaku tentang Wisty yang selalu
mendapatkan tamparan dan cekikkan dari ayahnya. Ayahnya memang sangat
temperamental, ia tak
dapat mengontrol emosinya. Bila ayahnya sedang stress dengan pekerjannya maka
ia akan melampiaskannya pada Wisty. Wisty meninggal juga karna ayahnya. Ayah macam apa
yang tega memukuli anaknya, menyiramnya dengan air mendidih bahkan mengurungnya
di kamar mandi sampai pagi? Ayah seperti apa dia? Aku tidak dapat mengontrol
emosiku saat mendengar cerita ibunya.
Aku ingin marah dan
memberontak saat itu juga. Tapi mengapa ia selalu terlihat bahagia? Padahal dia
selalu mendapat perlakuan kasar dari ayahnya. Mengapa ia selalu tersenyum
padaku? Dan mengapa ia terlihat selalu ceria dalam menjalani hidupnya di
sekolah? Wisty,
Aku tidak pernah menyangka hal ini terjadi pada dirimu.
Selamat jalan
sahabatku, kau cerita terindah dalam hidupku.







0 komentar:
Post a Comment