Wednesday, 10 August 2016

Cerpen: AIR MATA TERAKHIR

AIR MATA TERAKHIR

By: Cha Wulandari (Dendrobium)

Aku memiliki seorang sahabat, namanya Wisty, dia anak yang ceria dan mudah akrab dengan orang lain. Aku dan Wisty  selalu bersama saat di sekolah, tapi saat di rumah kami jarang bersama, karna dia tak pernah keluar rumah. Saat jam sekolah sudah usai, ia akan langsung pulang ke rumah, sepertinya dia sangat nyaman berada di rumahnya.

Seperti hari-hari biasanya, setiap pagi di hari sekolah, aku selalu menunggunya di perempatan dekat sekolah. Bila aku telat maka dia yang akan menungguku di sana, begitupun sebaliknya bila dia yang telat maka aku yang akan menunggunya. Lalu kami akan berangkat bersama.


Tak butuh waktu lama aku menunggu dia datang menghampiriku sambil sedikit berlari, aku tersenyum padanya dan ia pun tersenyum padaku.Dia berhenti tepat di depanku, dia beristirahat sejenak lalu dia menyapaku mengucapkan selamat pagi. Aku pun mengucapkan selamat pagi padanya.Dia berdiri tegak kembali lalu menggandeng tanganku dan kami pun berjalan bergandengan menuju sekolah.


Entah ini takdir atau hanya kebetulan saja, aku di pertemukan dengannya sejak kami masih duduk di bangku SMP, aku dan dia selalu berada di kelas yang sama selama 6 tahun ini. Dia menjadi sahabatku sejak kelas 3 SMP, dan sejak saat itu pula aku merasa tidak ingin berpisah dengannya. Dimana pun ia berada pasti aku juga ada di sana, bahkan ke WC pun kami pergi bersama. 

Selama aku mengenalnya, aku tidak pernah sekali pun melihat dia bersedih ataupun menangis, entah bagaimana hidup yang ia jalani sehingga ia selalu tersenyum dan terlihat bahagia. Karna senyum yang ia perlihatkan setiap hari itu, aku pun berkesimpulan bahwa dia tidak memiliki masalah, karna dia selalu tersenyum saat bertemu denganku.

Kamis pagi hari itu, ia terlihat sangat berbeda, wajahnya tampak berseri-seri dan sangat cantik. Pagi itu aku sangat takjub melihat dia, aku bagaikan melihat seorang putri dari kayangan dalam dirinya. Dia tersenyum seperti biasa, menyapaku seperti biasa, dan menggandeng tanganku dan kami langsung menuju ke sekolah seperti biasa. Saat itu aku merasa jantungku berdegup cepat, aku merasa seperti akan kehilangan sesuatu tapi aku tidak tau apa itu. Sepanjang hari jantungku terus berdegup cepat.


Jam istirahat adalah hal yang paling di sukai Wisty, alasannya karna dia bisa mengobrol banyak denganku. Saat jam istirahat banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari hal-hal yang ia suka seperti permen dan bunga hingga hal-hal yang sedang gempar di dunia maya seperti cerita cinta orang-orang di sekolah. Jam istirahat menurutku adalah waktu di mana aku dan dia bebas tertawa sesuka hati. Namun hari itu sebelum jam istirahat usai, Wisty menanyakan pertanyaan yang aneh menurutku. Ia bertanya padaku "Apakah kau bahagia menjadi sahabatku Nowela?". Aku sedikit terkejut sekaligus heran dengan pertanyaan tersebut, ku pikir, tanpa ku jawab pun dia pasti sudah tau jawabannya. "Aku bahagia Wisty, sangat bahagia". Dan hari itu juga untuk pertama kalinya aku melihat air mata Wisty jatuh dari pelupuk matanya sambil terus tersenyum kepadaku. Aku merasa aneh dengan sikapnya hari itu, tapi keanehan itu tidak ku hiaraukan.


Keesokan paginya aku kembali menunggunya di sana, di perempatan dekat sekolah. Ini tidak seperti biasanya fikirku, aku tidak pernah menunggu Wisty selama ini sebelumnya. Sudah 30 menit aku berdiri di sana menunggunya, namun ia belum datang juga. Kulihat jam yang melingkar di tanganku, "Sebentar lagi bel sekolah berbunyi". Aku tidak ingin mengambil resiko terlambat dan akhirnya aku memutuskan berangkat ke sekolah sendiri.

Setelah hari itu aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Dia tidak pernah datang lagi kesekolah, dia juga tidak menelpon atau mengirim surat ke sekolah. Satu minggu lamanya aku menunggunya di perempatan jalan itu tapi ia tak kunjung datang, aku selalu setia menunggunya di perempatan jalan itu sambil terus berharap dia akan datang. Tetapi harapanku sia-sia, ia tak pernah datang menghampiriku lagi. Aku putus asa, aku lelah menunggunya terus menerus seriap hari di perempatan jalan itu, akhirnya akupun memutuskan untuk menunjungi rumahnya walaupun ia selalu melarangku untuk datang.

Perkiraanku sangat jauh dari kenyataan. Saat aku tiba di depan rumahnya, tidak ada satu orang pun di sana. Rumahnya memang besar namun sangat sepi. Aku menekan bel berkali-kali namun tidak ada jawaban. Seorang ibu paru baya lalu menghampiriku dari belakang dan bertanya "Sedang apa Eneng di sini? Eneng cari siapa?"

"Apa betul ini rumahnya Wisty?" Tanyaku pada ibu-ibu itu.
"Non Wisty tidak ada di rumah Neng, sudah seminggu non Wisty di rawat di rumah sakit."
"Wisty sakit apa Bu? Kok kita di sekolah tidak ada yang tahu?"
"Non Wisty tidak sakit, Non Wisty kecelakaan."

Setelah mendengat kabar ia masuk rumah sakit, aku pun bergegas pergi ke rumah sakit untuk menjenguknya. Pada saat aku hendak memasuki ruangan tempat ia di rawat, aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, “perasaan apa ini Ya Allah?” tanyaku dalam hati. Aku takut, aku gugup.

Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan menampilkan sosok ibu Wisty yang sudah berusia hampir seperdua abad. Dia tersenyum menyapaku dan menyuruhku untuk masuk ke dalam. Akhirnya akupun memberanikan diri untuk memasuki ruang rawat sahabatku itu.

Saat aku membuka pintu bercat putih itu, mataku langsung mendapati sosok yang tidak asing lagi bagiku. Sosok Wisty di atas sebuah tempat tidur rumah sakit berselimutkan kain tipis berwarna putih bergaris abu-abu. Kini ia terbaring lemah dihadapanku dengan wajah yang sangat pucat, penuh dengan luka yang sudah di balut dengan kain putih.

Untung saja wajahnya tidak tersiram air panas, sehingga ibu masih bisa melihat wajahnya yang cantik” kata ibunya.Aku merinding mendengar penuturan dari ibunya, air panas? Apa maksudnya dengan air panas? Ibu Wisty mulai menangis melihat keadaan anakanya. Ia sudah tidak sanggup lagi menahan kesedihannya.

Aku berjalan kearahnya dengan kaki yang gemetar, rasanya aku tak bisa lagi menahan tangisku. Tapi aku sudah berjanji padanya untuk tidak akan menangis lagi, aku berusaha untuk membendung tangisku.

Saat aku berada di sampingnya yang sedang koma, terlihat jelaslah dimataku luka-luka yang ada di wajah dan lengannya. Luka hantaman benda tumpul, "Apakah ia juga di pukuli oleh seseorang? Tapi siapa yang tega melakukan ini kepadanya?". Aku yakin luka itu tidak hanya ada di situ, mungkin luka itu ada di sekujur tubuhnya. Aku semakin tidak bisa menahan tangisku menyaksikan keadaanya yang sangat tragis itu. Ty, siapa yang berani melukaimu?” tanyaku dalam hati padanya. Aku menengok ke kiri dan ke kanan tak kulihat lagi ibu Wisty di sana, kemana beliau pergi?

Lama aku menahan agar aku tak menangis di hadapannya, tapi aku tak sanggup berpura-pura tegar lagi. Akhirnya air mata yang terlarang itupun menetes dari mataku. Aku menggenggam tangannya, tangan itu terasa kaku dan dingin dalam genggamanku. Dan air mataku menetes semakin banyak. Maafkan aku, kataku sambil menangis tersedu-sedu dihadapannya yang lemah itu. “Tapi biarkan aku menangis untuk kali ini, aku tak sanggup untuk berpura-pura tegar melihatmu seperti ini. Biarkan aku menumpahkan air mata dihadapnmu, aku janji ini yang terakhir. Maafkan aku. Air mataku semakin deras mengalir seperti sungai dari pegunungan menuju muara dan terjun menuju lembah terdalam. Aku mengis menumpahkan air mataku  sebanyak-banyaknya.

Aku menunduk lalu kembali menatapnya, aku melihat ada bekas tetesan air di pipinya. Apakah ia menangis? Ya ia memang menangis. Aku tahu dia kecewa melihatku seperti ini, tapi aku tak sanggup lagi menahannya. Tiba-tiba terdengar bunyi panjang dari alat pendeteksi jantung yang di pasang ke tubuhnya.Aku melirik alat itu dan mendapati garis hijau itu berhenti bergerak. Seketika aku terdiam dan tak tahu apa yang harus aku lakukan. Sekumpulan orang berseragam putih memasuki ruangan dan aku masih terdiam di tempatku, aku tak bergerak sedikitpun dari sana.

Ibu Wisty memasuki ruangan itu dengan tangis yang histeris, aku tersadar setelah mendengar ibunya memanggil nama Wisty dengan keras. Aku melirik ke arah Wisty dan mendapati dirinya sudah tertutupi oleh kain yang tadi menyelimuti tubuhnya. Ibunya memeluk jasad yang kaku itu, air mataku kembali mengalir dengan sangat deras hingga tak terbendung lagi. Inikah akhir darinya? Ia telah tiada, ia telah kembali kepada yang menciptakannya.

Setelah pemakamannya pada hari itu, ibunya bercerita padaku tentang Wisty yang selalu mendapatkan tamparan dan cekikkan dari ayahnya. Ayahnya memang sangat temperamental, ia tak dapat mengontrol emosinya. Bila ayahnya sedang stress dengan pekerjannya maka ia akan melampiaskannya pada Wisty. Wisty meninggal juga karna ayahnya. Ayah macam apa yang tega memukuli anaknya, menyiramnya dengan air mendidih bahkan mengurungnya di kamar mandi sampai pagi? Ayah seperti apa dia? Aku tidak dapat mengontrol emosiku saat mendengar cerita ibunya.  

Aku ingin marah dan memberontak saat itu juga. Tapi mengapa ia selalu terlihat bahagia? Padahal dia selalu mendapat perlakuan kasar dari ayahnya. Mengapa ia selalu tersenyum padaku? Dan mengapa ia terlihat selalu ceria dalam menjalani hidupnya di sekolah? Wisty, Aku tidak pernah menyangka hal ini terjadi pada dirimu. 
Selamat jalan sahabatku, kau cerita terindah dalam hidupku.

0 komentar: