Terakhir Kalinya
Oleh : Dendrobium
merdeka.com
Aku menundukkan wajahku saat berjalan
ditengah keramaian sekolah dipagi ini. Banyak mata yang memandangku aneh tapi
tak satu pun dari mereka yang kuhiraukan keberadaannya. Bukan karna aku berniat
untuk berlaku tidak sopan melainkan karna aku sudah terbiasa dengan hal ini.
Setiapa hari saat aku melewati pintu
gerbang di sekolah ini, tatapan aneh selalu kuterima. Sudah tiga tahun aku
bersekolah disini, sudah tiga tahun pula aku menerima perlakuan tersebut. Aku
sudah kebal dengan hal itu jadi akhir-akhir ini aku sudah tidak memikirkannya.
Lagi pula sebentar lagi aku akan meninggalkan sekolah ini dan pergi jauh ke tanah
yang lebih subur meninggalkan tanah tandus ini untuk mengejar mimpiku.
Ya, mimpiku menjadi seorang penulis
sekaligus Dosen. Kenapa aku memilih sastra? Itu karna aku menyukainya. Aku
tidak ingin melakukan sesuatu hal karna terpaksa karna aku tidak ingin
melakukannya sambil memikul beban berat. Semua hal di dunia ini perlu dilakukan
dengan sepenuh hati dan niat yang kuat barulah ke suksesan dengan mudah di
genggam. Seberat apapun rintangan yang dihadapi nantinya akan dengan mudah
terselesaikan ketika itu atas keinginan kita.
Aqiela, sapaanku saat disekolah. Aqiela
si cewek aneh.
Tak apa, aku bisa menerima dengan lapang
dada karna hanya satu alasan. Mimpiku. Untuk apa aku memikirkan mereka yang
hanya akan menghambatku meraih mimpiku? Lebih baik aku tidak menghiraukan yang
mereka semua ucapkan tentang diriku. Biarlah mereka memandangku seperti apa
sekarang. Karna suatu saat mereka pasti akan berubah.
Kadang kala saat aku memikirkan tentang
mimpi itu, terbesit rasa tidak sanggup dalam diriku. Seketika aku bisa menjadi
kurang percaya diri saat membayangkannya lebih jauh lagi. Aku merasa aneh
dengan diriku sendiri. Melihat orang lain menjalani hidup seperti biasa,
membuatku merasa aneh. Tapi satu hal yang kembali membuatku bersemangat, semua
orang sukses memiliki mimpi yang mereka perjuangkan.
Satu-satunya orang yang selalu mensuport
ku adalah. Tidak ada. Karna aku tidak pernah mempublikasikan cerpen yang aku
buat. Sungguh malang nasib gadis aneh sepertiku. Aku masih merasa malu jika
menyuruh seseorang membaca karyaku. Belum ada orang yang memberikan respon
positif terhadap karya-karyaku. Mereka akan mengatakan berbagai macam alas an
agar mereka tidak membacanya. Saat itu lah kepercayaan diriku kembali turun.
Hari ini adalah hari terakhirku melihat
wajah-wajah mereka. wajah teman-teman seperjuanganku. Setelah hari ini berakhir aku akan pergi jauh dari
kehidupan mereka dan mencoba melupakan semua masa-masa terpurukku selama
bersekolah disini. Ya, walaupan itu sangat mustahil menurutku.
“Aqiela, selamat ya. Kamu mendapat
peringkat 6 tahun ini” kata Faiqa. Satu-satunya orang yang selalu baik padaku.
Oh, kenapa aku bisa melupkan Faiqa yang
sudah sangat baik padaku? Sedangkan aku terus memikirkan orang yang selalu
membenciku. Apakah aku sudah dibutakan oleh perasaan ini sehingga aku tidak
bisa melihat kebaikan Faiqa padaku, ya Yuhan mengapa aku bisa sebodoh ini?.
Aku tersenyum padanya dan mengucapkan
terimakasih. Faiqa memintaku untuk menemaninya kesesuatu tempat setelah acara
ini. Katanya sebagai perpisahan karna dia akan pergi kejepang untuk melanjutkan
kuliah. Aku hanya mengiyakan keinginanya.
Setelah hari ini aku juga akan pergi jauh.
Disinilah aku berakhir, disebuah café
yang sedikt jauh dari sekolah. kami menghabiskan waktu berjam-jam sambil
bercerita-certia dan sesekali tersenyum bahkan tertawa. Ini pertama kalinya aku
pergi bersama teman, beginikah rasanya? Sangat menyenangkan. Mengapa aku selama
ini aku hanya bersembunyi di perpustakaan? Padahal ternyata ada banyak
kesenangan di luar sana. Aku sangat bahagia hari itu, pergi bersama Faiqa
sangat menyenangkan.
Pagi kembali menyapaku. Hari ini aku
kembali ke sekolah untuk mengurus keperluan mendaftar ke universitas. Aku
sedikit gugup saat akan melihat nilai-nilai ku. Mudah-mudahan tidak terlalu
buruk. Hari itu semua orang datang dengan pakaian santai namun sopan. Mereka
tampak sangat dewasa dengan gaya mereka masing-masing. Tapi aku belum bertemu
dengan Faiqa. Apakah ia sudah berangkat ke jepang?
“Qil. Kamu kenapa baru datang?” seorang
teman sekelasku langsung mengampiriku dengan tanpa ekspresi. Dan saat itu aku
baru menyadari bahwa semua orang terlihat sedih hari ini. Aku menatap temanku
itu bingung. Apa yang terjadi?
“Faiqa meniggal Qil. Tadi malam.”
Aku kaget mendengar kabar duka itu. Aku
tidak percaya dengan yang dikatakan teman sekelasku itu. Ini pasti lelucon yang
mereka bikin. Aku tidakpercaya, kemarin aku pergi sama Faiqa di café dan dia
terlihat sehat. Kemarin dia bilang dia akan berangkat ke jepang utnuk kuliah.
Ah, ini pasti bohong, semua ini pasti bohong.
“Aku serius Qil, Faiqa meninggal karna
penyakit leukemia yang sudah ia derita selama empat tahun. Kami semua baru tau
hari ini. Kita menunggu kamu dari tadi supaya kita bisa sama-sama ke rumahnya.
Ini kesempatan terakhir kita untuk melihat dia Qil. Ayo kita pergi sekarang.”
Teman sekelasku menarikku bergegas ke
mobilnya. Pak Dandi membawa mobil temanku sedikit ngebut. Aku dan yang lainnya
hanya diam dalam mobil. Terutama aku yang masih shock. Pak Dandi beberapa kali
mengajak kami berbicara agar kami tidak larut dalam kesedihan namun kami tetap
tidak memberikan respon apapun pada pak Dandi.
Sesampainya di rumah duka, aku bersama
teman-temanku langsung di sambut dengan bendera putih di pagar tumah Faiqa. Aku
masih tidak percaya bahwa Faiqa meninggal. Sampai aku melihat dengan mataku
sendiri, jasad yang dingin dan terbujur kaku di ruang tamu yang cukup luas.
Wajah yang sangat pucat dan bibir yang sudah membiru. Aku tidak mampu menahan
rasa sedihku hingga air mataku jatuh saat itu juga. Aku kemudian merasakan
tangan seseorang memegang pundakku.
“Sabar Qil.”
Aku kembali melihat wajah Faiqa yang
terlihat sangat cantik di mataku. wajah tenang dan bibir yang seakan sedang tersenyum
ke arahku. “Selamat jalan sahabatku,
terima kasih telah menggenggam tanganku” kataku dalam hati sebelum kain
putih itu kembali menutupi wajahnya.
Faiqa selalu peduli pada orang lain, ia
tidak sombong dengan yang ia miliki. Ia bahkan menganggapku temannya saat semua
orang membenciku. Dia temaan terbaik yang pernah kumiliki.







0 komentar:
Post a Comment