Cinta Tak Pernah Salah
By : Edelweiis
By : Edelweiis
Hari
pertama Ujian Akhir Nasional (UAN) tingkat SMA dan sederajat akhirnya tiba
dipelupuk mata, hari dimana aku akan berperang melawan soal-soal ujian yang telah
siap bertempur denganku.(tapi teenaaaang….. aku udah siapin senjata paling
ampuh. Dijamin deh)
previous, kenalin
dulu nama aku Indah biasa dipanggil nda…
Yah,
kisah ini dimulai saat aku tengah mengikuti Ujian Akhir Nasional (UAN) di salah
satu SMA di daerah aku tinggal, kisah tentang perasaanku yang terpendam pada
seseorang cowok, siswa pendatang yang juga mengikuti ujian di sekolahku. Yang
belakangan aku tahu dia itu anak scout,
anak dari teman mama aku, dan aku juga tahu beberapa mantannya, yah sedikitnya
5lah (entah tahu dari mana, heran juga aku). Dan belakangan aku juga tahu kalau
dia punya perasaan sama aku, tapi kenapa perasaanku sama dia belakangan juga aku
sadari (hiks….hiks…..hiks).
Sekolah
masih sepi saat aku tiba di sana, terlihat beberapa siswa yang duduk dibangku
taman sekolah hanya sekedar membaca buku. Aku menyusuri koridor sekolah menuju
ruang ujian dan tanpa sengaja menabrakan seorang cowok “brukk”. Cowok itu
kanget dan menjatuhkan buku yang tadi dipegangnya, aku pun tak kalah kagetnya
dan reflex melontarkan kata maaf. Cowok itu membalas dengan senyuman manis yang
dihiasi dengan lesung pipi, kemudian berlalu menuju gerombolan cowok yang
terlihat melambaikan tangan ke arahnya.
Sebelum
ujian dilaksanakan, setiap pagi semua peserta ujian berkumpul dilapangan untuk
mengikuti apel pagi termasuk siswa dari sekolah pendatang yang ujian di
sekolahku. Dari kejauhan aku melihat seorang cowok yang diam-diam mencuri
pandang kepadaku, dan mau tidak mau aku jadi salting. Dan belakangan aku sadari
kalau ternyata dia cowok yang pernah aku tabrak saat hari pertama ujian.
Setelah
hampir satu minggu berhadapan dengan soal-soal akhirnya ujian selesai juga dan
berjalan dengan lancar, sebelum pulang aku memilih duduk di bangku yang berada
dibawah pohon mangga sambil mengalihkan pandangan pada setiap sudut sekolah
yang sebentar lagi aku tinggalkan, pandanganku terhenti pada aktivitas teman-temanku yang
sibuk mengambil foto dengan guru-guru, tidak ketinggalan saling berjabat tangan
dan peluk-pelukan yang dihiasi dengan cucuran air mata,
“Melamun
aja, ngak ikut foto ?” sebuah suara mengalihkan pandanganku, ternyata Sari,
sahabatku yang yang tiba-tiba nongol.
“aku
ngak melamun kok, ngak ah”jawabku datar
“ehh
indah, kayaknya ada yang naksir sama kamu deh, dari sekolah tetangga” jelasnya
tiba-tiba.
“emang
siapa dan kamu tau dari mana Sar ?”Tanyaku penasaran
“aku
ngak tahu siapa namanya, tapi aku sering liat dia senyam-senyum kayak orang
lagi kasmaran gitu kalau liat kamu.”
Senja
telah datang, aku duduk dibalkon rumah sambil main facebook. Sejenak aku berpikir
apa iya cowok yang aku tabrak waktu itu suka sama aku , tiba-tiba saja aku melihat
status yang bertuliskan #Indah dengan icon smile. (bukannya geer tapi yang
dimaksud itu aku loh) Sontak aku kanget, kok namaku sih ?, siapa sih yang
jadiin namaku status ?, kurang kerjaan amat. celotehku dalam hati. Aku langsung
buka profilnya dan betapa herannya aku ternyata dia cowok yang aku tabrak, yang
baru aku tahu namanya Abdul
“Hi,
Assalamu alaikum.” Sebuah pesan masuk ke akun facebook milikku
“iya,
wa alaikumussalam,”
“Maaf,
dengan Indah yang baru-baru ikut ujian ?” balasnya yang bernama akun choco moca
“iya,
siapa ya ?” tanyaku
“aku
Abdul, mungkin kamu ngak kenal aku, aku salah satu peserta ujian di sekolahmu.”
“terus?.”
“maaf
sebelumnya, kalau aku sering liatin kamu waktu ujian” (jujur banget nih orang)
“emang
kenapa kamu liatin aku?”
“maaf,
tapi aku ngak bisa jelasin?”
“Kenapa?”
tanyaku lagi
“saat
mulut tak bisa lagi berkata-kata, lebih baik diam dan merasakan apa yang akan
dirasakan.”jelasnya.
Kata-kata
terakhirnya selalu terngiang dalam pikiranku dan menimbulkan tanda tanya,
kenapa dia tidak bisa jelasin?. sejak saat itu, kita tidak pernah lagi saling
chat, dan tidak pernah lagi ketemu. Dan sialnya, kenapa aku rindu ingin chat
dengan dia tapi tidak ada keberanian ingin memulai, ingin ketemu dengan dia,
selalu senyum-senyum sendiri kalau liat foto diprofil facebooknya, jealous kalau tahu dia punya pacar. Ya
Tuhan, jangan bilang aku jatuh cinta sama dia. Uuuffhh dan sialnya itu benar. Aku
ngak bisa mengingkari perasaanku sendiri, perasaan yang masih tetap sama hingga
aku masuk kuliah.
9
bulan telah berlalu (orang hamil kali ya hehehe) tapi perasaan aku sama dia
masih tetap sama, dan selama itu diam-diam aku masih sering cari info tentang
dirinya, apa dia masih suka sama aku atau tidak (entahlah, tapi aku berharap
sih hehehe), aku juga baru tahu kalau ibunya berhijab syar’i dan memakai cadar,
aku juga iri saat tahu bahwa ada mantan pacarnya yang memakai hijab syar’i. bersamaan dengan
itu salah satu teman sekelasku mengajak tarbiyah yang diadakan oleh Lembaga
Dakwah Kampus, dan jadilah aku berada dilingkungan orang-orang yang haus akan
ilmu syar’i, orang-orang yang membawa
kedamaian dan kesejukan hati dan menjadi wadah untukku menjadi lebih baik.
Sudah
2 minggu aku mengikuti tarbiyah, selama itu banyak ilmu yang aku dapatkan dari
murobbiahku, selain ilmu motivasi juga selalu mengiringi perjalanan terbiyah
kami, dan rasa syukur tiada henti-hentinya aku panjatkan kepada Allah Sang
pencipta, Sang pemilik segala rasa. Bersyukur karena masih bisa menikmati
indahnya islam.
Seiring
berjalannya waktu, aku memahami bahwa cinta yang sebenar-benarnya cinta hanyalah
cinta kepada Allah, cinta yang tak bertepi, cinta yang membawa nikmat saat
bersama dengan Allah. Cinta adalah fitrah yang dianugerahkan Allah kepada
mahluknya. Pada dasarnya cinta adalah netral, tetapi kembali pada siapa yang
mengemudi cinta itu sendiri, jika nafsu syahwat yang mendominasi maka cinta itu
akan berakhir dengan kebinasaan, tapi ketika cinta yang bertaburan dengan bunga
keimanan dan ketakwaan kepada Allah, maka cinta adalah pengikat antara manusia
dengan Tuhannya.
Selama
ini banyak orang yang telah menyalah gunakan arti cinta, mereka merasa bahwa
cinta itu diaplikasikan dalam bentuk pacaran, mengatas namakan cinta tapi
berlandaskan hawa nafsu, bahkan ada yang berpikir ada pacaran islami ( emangnya
ada hadisnya ya ? ), miris hati ini melihat fenomena tersebut.
Hmmmm,
tentang dia yang selama ini kucintai dalam diam, yang selalu kusebut namanya
dalam sujud dan doaku, aku berharap rasa yang dulu masih terbesit dalam
hatinya, aku berharap rasa itu masih sama dengan rasa yang aku punya, tapi yang
aku tahu tiada yang paling pahit selain berharap sama manusia. so, aku hanya
bisa berdoa dan berharap sama Allah sang Maha pembolak balik hati manusia,
disamping aku juga terus berbenah dan memantaskan diri menjadi seorang muslimah
yang sejati, Karena ku tahu jodoh adalah cerminan kita, jika kita baik
InsyaAllah jodoh kita akan baik pula, sebagaimana perkataan Allah dalam Q.S
An-Nur ayat 26 “wanita-wanita yang keji
adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk
wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk
laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang
baik ( pula).” Ayat ini telah memantapkan hatiku untuk menjadi lebih baik
lagi, lagi dan lagi…
Aku
bersyukur karena pacaran bukan pilihanku, aku lebih memilih mencintainya dalam
diam ( lagi lagi aku berharap dia pun begitu….astagfirullahal adzim)..aku tak
seberani Khadijah yang mengungkapkan rasa terlebih dahulu pada Rasulullah, aku
hanya wanita seperti Fatimah, yang menanti seorang Ali menghalalkanku. ( dan
lagi lagi aku berharap dialah seorang Ali).
Pada
akhirnya aku benar-benar tidak pernah lagi bertemu dengannya ataupun sekedar
mendengar kabarnya, aku hanya menitipkan rinduku lewat doa yang selalu
kupanjatkan. Hingga masa wisuda pun telah tiba, setelah diperhadapkan dengan
penyusunan skripsi yang begitu menguras hati dan tenaga, akhirnya sebuah toga
terpasang rapi di kepalaku dan gelar sebagai sarjana pendidikan telah aku
sandang sebagai hasil dari perjuanganku selama hampir 4 tahun. ( Alhamdulillah,
terima kasih ya Allah )
“ya
Allah, aku mencintainya. Jika ia adalah jodohku, maka dekatkanlah kami dengan
caramu. Jauhkan kami dari dosa dan maksiat, jadikanlah dia orang yang sholeh
dan selalu ingat kepadamu, jaga akhlaknya, jagalah dia untukku. Bila kami
memang tidak berjodoh, maka peliharalah aku dari kekecewaan. dan jatuh
cintakanlah aku pada orang yang melabuhkan cintanya kepadamu.”







0 komentar:
Post a Comment