Tuesday, 30 August 2016


Cinta Tak Pernah Salah
By : Edelweiis


Hari pertama Ujian Akhir Nasional (UAN) tingkat SMA dan sederajat akhirnya tiba dipelupuk mata, hari dimana aku akan berperang melawan soal-soal ujian yang telah siap bertempur denganku.(tapi teenaaaang….. aku udah siapin senjata paling ampuh. Dijamin deh)
            previous, kenalin dulu nama aku Indah biasa dipanggil nda…
Yah, kisah ini dimulai saat aku tengah mengikuti Ujian Akhir Nasional (UAN) di salah satu SMA di daerah aku tinggal, kisah tentang perasaanku yang terpendam pada seseorang cowok, siswa pendatang yang juga mengikuti ujian di sekolahku. Yang belakangan aku tahu dia itu anak scout, anak dari teman mama aku, dan aku juga tahu beberapa mantannya, yah sedikitnya 5lah (entah tahu dari mana, heran juga aku). Dan belakangan aku juga tahu kalau dia punya perasaan sama aku, tapi kenapa perasaanku sama dia belakangan juga aku sadari (hiks….hiks…..hiks).
Sekolah masih sepi saat aku tiba di sana, terlihat beberapa siswa yang duduk dibangku taman sekolah hanya sekedar membaca buku. Aku menyusuri koridor sekolah menuju ruang ujian dan tanpa sengaja menabrakan seorang cowok “brukk”. Cowok itu kanget dan menjatuhkan buku yang tadi dipegangnya, aku pun tak kalah kagetnya dan reflex melontarkan kata maaf. Cowok itu membalas dengan senyuman manis yang dihiasi dengan lesung pipi, kemudian berlalu menuju gerombolan cowok yang terlihat melambaikan tangan ke arahnya.
Sebelum ujian dilaksanakan, setiap pagi semua peserta ujian berkumpul dilapangan untuk mengikuti apel pagi termasuk siswa dari sekolah pendatang yang ujian di sekolahku. Dari kejauhan aku melihat seorang cowok yang diam-diam mencuri pandang kepadaku, dan mau tidak mau aku jadi salting. Dan belakangan aku sadari kalau ternyata dia cowok yang pernah aku tabrak saat hari pertama ujian.
Setelah hampir satu minggu berhadapan dengan soal-soal akhirnya ujian selesai juga dan berjalan dengan lancar, sebelum pulang aku memilih duduk di bangku yang berada dibawah pohon mangga sambil mengalihkan pandangan pada setiap sudut sekolah yang sebentar lagi aku tinggalkan, pandanganku  terhenti pada aktivitas teman-temanku yang sibuk mengambil foto dengan guru-guru, tidak ketinggalan saling berjabat tangan dan peluk-pelukan yang dihiasi dengan cucuran air mata,
“Melamun aja, ngak ikut foto ?” sebuah suara mengalihkan pandanganku, ternyata Sari, sahabatku yang yang tiba-tiba nongol.
“aku  ngak melamun kok, ngak ah”jawabku datar
“ehh indah, kayaknya ada yang naksir sama kamu deh, dari sekolah tetangga” jelasnya tiba-tiba.
“emang siapa dan kamu tau dari mana Sar ?”Tanyaku  penasaran
“aku ngak tahu siapa namanya, tapi aku sering liat dia senyam-senyum kayak orang lagi kasmaran gitu kalau liat kamu.”
Senja telah datang, aku duduk dibalkon rumah sambil main facebook. Sejenak aku berpikir apa iya cowok yang aku tabrak waktu itu suka sama aku , tiba-tiba saja aku melihat status yang bertuliskan #Indah dengan icon smile. (bukannya geer tapi yang dimaksud itu aku loh) Sontak aku kanget, kok namaku sih ?, siapa sih yang jadiin namaku status ?, kurang kerjaan amat. celotehku dalam hati. Aku langsung buka profilnya dan betapa herannya aku ternyata dia cowok yang aku tabrak, yang baru aku tahu namanya Abdul
“Hi, Assalamu alaikum.” Sebuah pesan masuk ke akun facebook milikku
“iya, wa alaikumussalam,”
“Maaf, dengan Indah yang baru-baru ikut ujian ?” balasnya yang bernama akun choco moca
“iya, siapa ya ?” tanyaku
“aku Abdul, mungkin kamu ngak kenal aku, aku salah satu peserta ujian di sekolahmu.”
“terus?.”
“maaf sebelumnya, kalau aku sering liatin kamu waktu ujian” (jujur banget nih orang)
“emang kenapa kamu liatin aku?”
“maaf, tapi aku ngak bisa jelasin?”
“Kenapa?” tanyaku lagi
“saat mulut tak bisa lagi berkata-kata, lebih baik diam dan merasakan apa yang akan dirasakan.”jelasnya.
Kata-kata terakhirnya selalu terngiang dalam pikiranku dan menimbulkan tanda tanya, kenapa dia tidak bisa jelasin?. sejak saat itu, kita tidak pernah lagi saling chat, dan tidak pernah lagi ketemu. Dan sialnya, kenapa aku rindu ingin chat dengan dia tapi tidak ada keberanian ingin memulai, ingin ketemu dengan dia, selalu senyum-senyum sendiri kalau liat foto diprofil facebooknya, jealous kalau tahu dia punya pacar. Ya Tuhan, jangan bilang aku jatuh cinta sama dia. Uuuffhh dan sialnya itu benar. Aku ngak bisa mengingkari perasaanku sendiri, perasaan yang masih tetap sama hingga aku masuk kuliah.
9 bulan telah berlalu (orang hamil kali ya hehehe) tapi perasaan aku sama dia masih tetap sama, dan selama itu diam-diam aku masih sering cari info tentang dirinya, apa dia masih suka sama aku atau tidak (entahlah, tapi aku berharap sih hehehe), aku juga baru tahu kalau ibunya berhijab syar’i dan memakai cadar, aku juga iri saat tahu bahwa ada mantan pacarnya  yang memakai hijab syar’i. bersamaan dengan itu salah satu teman sekelasku mengajak tarbiyah yang diadakan oleh Lembaga Dakwah Kampus, dan jadilah aku berada dilingkungan orang-orang yang haus akan ilmu syar’i,  orang-orang yang membawa kedamaian dan kesejukan hati dan menjadi wadah untukku menjadi lebih baik.
Sudah 2 minggu aku mengikuti tarbiyah, selama itu banyak ilmu yang aku dapatkan dari murobbiahku, selain ilmu motivasi juga selalu mengiringi perjalanan terbiyah kami, dan rasa syukur tiada henti-hentinya aku panjatkan kepada Allah Sang pencipta, Sang pemilik segala rasa. Bersyukur karena masih bisa menikmati indahnya islam.
Seiring berjalannya waktu, aku memahami bahwa cinta yang sebenar-benarnya cinta hanyalah cinta kepada Allah, cinta yang tak bertepi, cinta yang membawa nikmat saat bersama dengan Allah. Cinta adalah fitrah yang dianugerahkan Allah kepada mahluknya. Pada dasarnya cinta adalah netral, tetapi kembali pada siapa yang mengemudi cinta itu sendiri, jika nafsu syahwat yang mendominasi maka cinta itu akan berakhir dengan kebinasaan, tapi ketika cinta yang bertaburan dengan bunga keimanan dan ketakwaan kepada Allah, maka cinta adalah pengikat antara manusia dengan Tuhannya.
Selama ini banyak orang yang telah menyalah gunakan arti cinta, mereka merasa bahwa cinta itu diaplikasikan dalam bentuk pacaran, mengatas namakan cinta tapi berlandaskan hawa nafsu, bahkan ada yang berpikir ada pacaran islami ( emangnya ada hadisnya ya ? ), miris hati ini melihat fenomena tersebut.
Hmmmm, tentang dia yang selama ini kucintai dalam diam, yang selalu kusebut namanya dalam sujud dan doaku, aku berharap rasa yang dulu masih terbesit dalam hatinya, aku berharap rasa itu masih sama dengan rasa yang aku punya, tapi yang aku tahu tiada yang paling pahit selain berharap sama manusia. so, aku hanya bisa berdoa dan berharap sama Allah sang Maha pembolak balik hati manusia, disamping aku juga terus berbenah dan memantaskan diri menjadi seorang muslimah yang sejati, Karena ku tahu jodoh adalah cerminan kita, jika kita baik InsyaAllah jodoh kita akan baik pula, sebagaimana perkataan Allah dalam Q.S An-Nur ayat 26 “wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik ( pula).” Ayat ini telah memantapkan hatiku untuk menjadi lebih baik lagi, lagi dan lagi…
Aku bersyukur karena pacaran bukan pilihanku, aku lebih memilih mencintainya dalam diam ( lagi lagi aku berharap dia pun begitu….astagfirullahal adzim)..aku tak seberani Khadijah yang mengungkapkan rasa terlebih dahulu pada Rasulullah, aku hanya wanita seperti Fatimah, yang menanti seorang Ali menghalalkanku. ( dan lagi lagi aku berharap dialah seorang Ali).
Pada akhirnya aku benar-benar tidak pernah lagi bertemu dengannya ataupun sekedar mendengar kabarnya, aku hanya menitipkan rinduku lewat doa yang selalu kupanjatkan. Hingga masa wisuda pun telah tiba, setelah diperhadapkan dengan penyusunan skripsi yang begitu menguras hati dan tenaga, akhirnya sebuah toga terpasang rapi di kepalaku dan gelar sebagai sarjana pendidikan telah aku sandang sebagai hasil dari perjuanganku selama hampir 4 tahun. ( Alhamdulillah, terima kasih ya Allah )
“ya Allah, aku mencintainya. Jika ia adalah jodohku, maka dekatkanlah kami dengan caramu. Jauhkan kami dari dosa dan maksiat, jadikanlah dia orang yang sholeh dan selalu ingat kepadamu, jaga akhlaknya, jagalah dia untukku. Bila kami memang tidak berjodoh, maka peliharalah aku dari kekecewaan. dan jatuh cintakanlah aku pada orang yang melabuhkan cintanya kepadamu.”










            

0 komentar: